Panic Disorder itu apa? Bagaimana cara saya bisa sembuh darinya? (Bagian 3-3)

Berita kurang baiknya, panic disorder mungkin tidak bisa sembuh 100%. Karena itu yang saya rasakan hingga saat ini. Tapi berita baiknya, panic disorder bisa kita anggap sebagai peringatan yang dikeluarkan oleh pikiran saat kita tidak berolahraga, tidak berpikir positif dan tidak melakukan kegiatan yang membuat kita bahagia. Anggap saja alarm kehidupan, seperti penderita maag yang tidak boleh telat makan seumur hidupnya.

Kehidupan saya telah kembali, meski tidak sembuh 100%. Tapi saya bisa lepas obat 100% walau terkadang masih membawanya untuk sugesti saja.

Kesimpulan berdasarkan pengalaman pribadi saya:

Bahwa obat hanya membantu sedikit. Sisanya adalah merusak otak dan pikiran serta hubungan dengan keluarga. Obat hanya diperlukan saat kritis, saya lebih suka mengandalkan pikiran yang bahagia dan hidup sehat serta berolahraga teratur.

Pahami bahwa memang kondisi kita saat ini ialah menderita penyakit ini. Tapi sadari juga bahwa ini bukan akhir dari segalanya.

Tulisan ini bukanlah resep dokter atau anjuran untuk tidak memakai psikiater. Hanya saja, berdasarkan pengalaman saya, psikiater yang saya bayar hanya menginginkan uang saya, tidak dengan kesembuhan saya. Oh ya, obat yang saya minum membuat tangan saya jadi bergetar halus, tulisan saya jadi buruk sekali dan terasa bukan seperti tangan saya.

Tulisan ini didedikasikan bagi para penderita panic disorder yang selama ini mungkin bingung harus berbuat apa selain pergi ke psikiater. Karena cepat atau lambat, mereka pasti akan menyadari bahwa psikiater tidak banyak membantu. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Dan seperti yang saya tulis di bagian pertama, bahwa dokter umum yang memeriksa saya dan berkata “You just fine!” itu mungkin sudah paham betul bahwa obat dan psikiater adalah sia-sia. ¬†Saya ulangi kalimat tersebut untuk kalian yang seperti saya: “You just fine!”¬†

Kemudian, saya mengimbau bagi siapa saja yang mengenal seseorang yang terserang penyakit panic disorder untuk tidak menganggap mereka gila atau berbeda. Mereka adalah orang biasa yang sama seperti orang normal lainnya, tapi mereka dilahirkan dengan gen ketakutan atau saraf ketakutan yang kurang bagus. Apakah kalian mengenal seseorang yang tidak takut mati? Nah mirip dengan penderita panic disorder, bedanya yang satu penakut, yang satu sangat pemberani. Kalaupun mereka akhirnya jadi gila beneran, saya yakin penyebabnya adalah obat dan psikiater yang tidak mendukung mereka.

Saya memaklumi kalau orang awam pernah berkata saya bahwa saya harus berani tanpa memberitahukan caranya. Tapi kalau psikiater, yang memang sekolah di bidang ini, tidak memberitahu saya caranya, mereka tidak bisa saya maklumi. Lebih baik kalian saja yang meminum obat penenang tersebut!

Terlebih lagi, mereka makan uang saya, yang saya cari susah payah dengan meminum obat mereka yang bikin saya malas bekerja!

Jika kalian menemukan orang dengan kondisi seperti ini, kalian bisa mengenalkannya pada saya, yang akan membantu mengurangi beban pikiran mereka. Ingat, tak satupun orang sakit, ingin sakit. Dan tak satupun orang gila, ingin gila. Meskipun saya tidak bisa memberi mereka obat yang diperlukan saat kritis, tapi saya bisa memberikan pengertian dan saya bisa mengerti kondisi mereka. Itu akan jauh lebih berguna daripada mereka disalahkan oleh psikiater dan dianggap gila oleh orang normal yang merasa dirinya waras.

Salam waras!

Comments

  1. Pingback: Panic Disorder itu apa? Bagaimana cara saya bisa sembuh darinya? (Bagian 2-3) – GerombolanSiberat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *