Panic Disorder itu apa? Bagaimana cara saya bisa sembuh darinya? (Bagian 2-3)

Cara agar sembuh dari panic disorder (pengalaman pribadi)

Saya melakukan terapi kebahagiaan, yakni membuat diri saya bahagia. Sebelum itu, saya menyadari bahwa terapi standar yang psikiater berikan berupa: kamu harus berani! adalah salah dan tidak berlaku bagi kondisi saya saat itu. Saya memang harus berani, tapi bagaimana caranya?

Ini seperti kebanyakan orang tua menyuruh anaknya belajar supaya pandai, tapi mereka tidak memberitahu cara belajarnya gimana? Semua ada caranya, termasuk cara menjadi berani.

Pertama, saya melakukan kegiatan yang membuat saya bahagia. Harus kegiatan yang melibatkan fisik, karena saya percaya bahwa di dalam tubuh yang sehat maka terdapat pula jiwa yang sehat. Teorinya simpel, kalau di dalam jiwa yang sehat terdapat tubuh yang sehat, begitu pula kebalikannya. Mana yang lebih mudah bagi saya saat itu, membuat tubuh saya sehat dulu atau jiwa sehat dulu? Saya memilih menyehatkan tubuh dulu, karena itu jauh lebih mudah.

Kegiatan yang saya suka yakni merawat burung. Saya membeli beberapa burung yang saya suka, tanpa perasaan bersalah. Karenanya saya jadi bersemangat bangun pagi, pergi berjalan kaki untuk membeli makanan burung hampir setiap pagi, dan rutin menjemur burung setiap pagi. Selain jadi rutin bangun pagi, saya juga rutin berjemur dan inilah salah satu terapi, yakni terapi sinar matahari pagi. Ketika melakukannya saya merasa bahagia.

Efeknya? Saya jadi mengantuk pada saat yang benar, yakni malam hari. Pikiran jadi lebih bahagia dan benar apa kata buku yang saya baca, kebahagiaan menyembuhkan banyak sekali masalah. Badan jadi lebih segar karena bangun teratur di pagi hari, setiap harinya.

Kedua, saya melakukan riset mengenai apa yang saya takutkan. Semisal saya takut hujan, saya memandang di hujan dan sebenarnya yang saya takutkan bukan hujannya, melainkan banjir yang diakibatkannya. Banjir menyebabkan jalan sulit dilalui, jadi saya membayangkan ketika saya kumat, bagaimana saya bisa ke dokter kalau jalannya banjir? Nah beruntung ketika saya pindah rumah, rumah yang baru ini tidaklah banjir. Dan permasalahan ini bisa dibilang selesai lebih mudah.

Mengenai ketakutan saya pada kemacetan, saya sebisa mungkin menghindari saat masa-masa pemulihan. Ajaibnya sekarang ketakutan tersebut hilang dengan sendirinya!

Ketiga, isi pikiran dengan hal-hal positif seperti beribadah dan bekerja, melakukan pekerjaan yang menghasilkan. Karena saat itu saya butuh uang, maka saya bekerja yang menghasilkan uang. Kalau kamu suka kegiatan bakti sosial, lakukan saja. Lakukan asal kamu bahagia dan hindari rasa bersalah. Saya beruntung bisa bekerja di rumah, karena pekerjaan saya adalah berjualan makanan online dan membuat website.

Mengisi pikiran dengan hal-hal positif sama besar efeknya dengan fokus pada kesembuhan, bukan fokus pada penyakit yang kita derita. Hindari berkata dalam hati: “Saya tidak ingin sakit,” melainkan katakan: “Saya ingin sembuh, dan saya akan sembuh!”

Keempat, saya mengurangi dosis obat, langsung seketika saat saya ada kegiatan. Jadi misal di hari pertama saya minum obat seperti biasa, kemudian besok dosisnya saya kurangi. Saya lakukan sekitar seminggu. Kemudian di Minggu kedua, saya minum obat dengan dosis 1/2nya di hari Senin, dan di hari Selasa saya tidak minum. Kemudian Rabu minum dengan dosis 1/2 dan Kamis tidak minum. Saya lakukan 1-2 mingguan. Setelah itu saya lepas obat, hingga sekarang. Pengurangan obat ini didasari oleh pengalaman bahwa bergantung pada obat sama sekali tidak membuat saya lebih baik, dan pengalaman itu berbicara kuat sekali.

Perlahan tapi pasti? Oh tidak, menurut saya perkembangan ini cepat sekali. Tidak sampai sebulan saya sudah bisa lepas obat total. Tidak ketergantungan walau saya sudah meminumnya bertahun-tahun. Otak saya yang biasanya kurang begitu bisa berpikir dengan baik, jadi normal. Mata yang sering mengantuk dan tubuh lemas, jadi normal.

Obat yang diberikan psikiater, mempunyai efek yang buruk, sama buruknya dengan ketakutan yang saya alami. Obat tersebut membuat lemas, pikiran jadi seperti robot dan selalu mengantuk sepanjang hari.

Psikiater yang awalnya mendukung saya, beralih menyalahkan saya karena saya selalu mengantuk sepanjang hari. Padahal obat brengsek itulah penyebabnya! Disini terlihat jelas bahwa psikiater tidak memahami kondisi psikologi saya sama sekali. Kalau kamu jadi saya, apakah kamu akan suka disalahkan? Padahal kamu sendiri tidak tau penyebab jadi mengantuk? Atau, kamu tau penyebabnya, tapi psikiater memaksa untuk tetap bangun dan meminum obat brengsek itu?

Saya berani menantang psikiater tersebut untuk meminum obat, rutin seperti yang saya lakukan. Dan saya berani jamin dia tidak akan bisa beraktivitas normal. Siapa saja yang menyanggah tulisan saya ini, harus berani menerima tantangan meminum obat yang pernah saya minum. Setelah itu baru kita boleh beradu argumen.

Kelima, saya berinteraksi dengan tetangga, teman atau siapa sajalah. Asalkan kita bisa berkomunikasi, merasakan kehadiran mereka, kehadiran kita dan kehidupan normal yang berlangsung di sekitar kita. Ini membuat saya sejenak melupakan apa yang saya derita. Yang pada akhirnya memang sering terlupakan.

Dari poin satu hingga lima, saya melakukannya sekaligus, tanpa ada yang saya prioritaskan karena menurut saya semuanya berkaitan dan harus seimbang. Prinsip saya saat melakukan keempat tindakan di atas sangat sederhana, intinya:

  1. Saya harus bahagia
  2. Saya harus melakukan kegiatan yang membuat saya bahagia
  3. Saya harus melepas obat karena pengaruhnya buruk sekali dalam kehidupan saya
  4. Saya harus berolahraga setiap pagi, terkena sinar matahari dan tidak begadang di malam hari

Tapi saya tidak selalu berani 100%

Ketika saya merasa benar-benar tidak yakin akan berani, semisal pergi sendiri naik Go-Ride, maka saya akan membawa obat sebagai jaga-jaga saja. Selama lebih dari 1 tahun saya membawa obat, saya baru meminumnya dua kali saja. Bagi saya, obat memang tidak membantu membuat kehidupan saya lebih baik, hanya berupa sugesti yang bisa saya manfaatkan keberadaannya. Saya anggap obat tersebut adalah obat tidur, yang mungkin saja saya akan memerlukannya.

Bahkan meski membawa obat, sesekali saya juga masih merasakan jantung berdebar kok. Tapi karena pikiran saya sudah terlatih dan tubuh saya sehat, saya jadi lebih mudah mengatasinya tanpa meminum obat yang saya bawa. Bagi saya itu kemenangan besar yang membuat saya menjadi lebih berani, di kesempatan berikutnya.

Sugesti tidak selalu harus obat kok, saya terkadang membawa smartphone saja sudah cukup membuat saya berani. Terkadang saya juga lupa membawa obat dan itu bukan masalah. Intinya, sugesti tetap diperlukan. Saya tidak terlalu pusing dengan sugesti apa yang saya gunakan atau bawa, asalkan tujuannya membuat saya berani, saya pakai saja.

Saya lanjutkan di bagian ke-3, yakni kesimpulan yang bisa dibaca disini.

Comments

  1. Pingback: Panic Disorder itu apa? Bagaimana cara saya bisa sembuh darinya? (Bagian 1-3) – GerombolanSiberat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *