Panic Disorder itu apa? Bagaimana cara saya bisa sembuh darinya? (Bagian 1-3)

Awal mulanya, saya terkena penyakit lambung atau yang biasa disebut sebagai Maag. Dokter yang kala itu memeriksa saya, langsung menyatakan bahwa mulai hari ini saya harus selalu membawa roti di saku. Ketika lapar atau sudah waktunya makan (dan tidak sempat makan), maka roti itu harus saya makan.

Saya masih ingat betul karena waktu itu saya duduk aja mual. Kepala terasa tidak enak dan nasihat tersebut seolah petunjuk saya hidup, yang harus saya pegang seumur hidup saya. Konon katanya penderita maag tak bisa sembuh alias gaya hidupnya harus benar-benar bagus.

Tapi keanehan terus terjadi. Walau saya sudah rutin makan, jantung sering berdebar dan nafas terasa tidak enak. Rasanya seperti sesak, walau hanya di pikiran. Dokter lain yang saat itu saya pilih sebagai dokter alternatif, memberi saran cara membedakan sesak nafas atau hanya perasaan saja. Kalau kamu masih bisa makan roti berarti bukan sesak nafas. Kalaupun benar sesak nafas, mungkin dikarenakan ada radang di tenggorokan, akibat GERD. Cara berpikir ini dia tanamkan sekilas, supaya saya tidak mudah takut dan panik.

Tapi jantung saya tetap berdebar. Bahkan saat tidur terasa mengganggu. Setelah operasi amandel yang katanya harus dan wajib dilakukan secepatnya, saya makin bingung karena jantung saya saat ditest, baik-baik saja walau katanya ada sedikit kebocoran. Memang saya diharuskan test jantung dulu sebelum operasi amandel, dari situ saya tahu bukan jantung masalahnya.

Btw, saya membagi artikel ini menjadi 3 bagian ya. Supaya saya bisa menceritakan pengalaman saya, dari awal terkena sampai saya ‘sembuh’. Tujuan saya simpel, supaya kita bisa mengenali apa itu panic disorder dan tidak menganggap penderitanya gila. Supaya penderita bisa memiliki harapan untuk sembuh dan memulai hidup baru dengan cara baru dan pikiran baru. Agak panjang memang, tapi saya bisa jamin cerita ini menyingkap banyak hal dari panic disorder, yang mungkin tidak kalian temukan di website lain, bahkan di psikiater sekalipun!

Apakah Maag penyebabnya? Bisa jadi, tapi bukan itu akar masalahnya. Awalnya saya menduga adalah GERD penyebab utamanya. Tapi saya berani jamin, GERD bisa jadi pemicunya, tapi bukan penyebab utamanya.

Lantas saya mulai menyadari keanehan saat saya menonton MotoGP kesukaan saya. Saya menonton dalam posisi berdua dengan papa saya. Saat merasa tegang nonton balapan di TV, jantung langsung kambuh dan perasaan jadi tidak nyaman, seperti panik tapi saya juga bingung ini panik apa. Kemudian TV saya pindahkan channel, karena gara-gara nonton MotoGP lah saya jadi ‘panik’.

Sampai akhirnya saya bertemu dokter umum, berperawakan tinggi kurus dan berkacamata. Dokter tersebut, yang saya lupa siapa namanya, memeriksa saya dalam kondisi jantung berdebar hingga 120-130 per menit. Dokter tersebut berkata bahwa saya baik-baik saja dan tidak akan mati karenanya. Ia memberi nasihat: “Kamu tidak apa-apa kok. Kamu mau sampai kapan begini terus? Ayo, kamu tidak apa-apa.”

(Pada bagian 3, bagian akhir dari cerita ini, kita semua akan menyadari bahwa kemungkinan besar dokter berperawakan kurus ini, mungkin sudah tahu penyakit apa yang menyerang saya saat itu. Dan saya meyakini bahwa dokter tersebut tidak ingin penyakit itu saya derita. Saat penyakit itu menyerang, dia hanya ingin saya lekas sembuh dan mengalihkan pikiran saya. Karena ternyata penyakit ini semakin menjadi dan buas seperti lingkaran setan, ketika saya menyadari apa yang menyerang saya. Dokter ini, saya anggap sudah memberi saya petunjuk kesembuhan yang saat itu lepas dari pengamatan saya. Poinnya adalah, peduli amat apa penyakitmu, you just fine! Atau bisa juga diartikan: tubuhmu sehat kok, buat pikiranmu mempercayainya!)

Saya sempat bingung, padahal jantung saya saat itu seperti orang habis berlari. Jelas ada apa-apa kan? Karena saya agak memaksa dan menceritakan ketakutan saya, dokter tersebut memberi obat penenang dan cuma boleh diminum 1x, 1/2 tablet kecil. Saya pun segera meminumnya ketika saya merasa panik, dan saya bisa tidur agak nyenyak. Agak nyenyak sih karena saya sempat melihat halusinasi dan tubuh terasa enteng banget.

Tapi sekali lagi, saya tetap mengalami yang namanya panik dan jantung berdebar. Hingga pada suatu hari, saya meminta tolong pada koko saya untuk mencarikan dokter, kalau bisa psikiater saja, karena saat itu saya merasakan ada yang aneh di pikiran saya. Sempat koko saya berkata bahwa itu Schizofrenia, yang langsung saya tepis. Saya tidak gila, kata saya. Saya hanya panik dan entah kenapa mudah panik.

Ketika itu, koko saya bekerja di Surabaya Timur dan saya tinggal di rumahnya di Surabaya Barat. Saya sadar betul bahwa perjalanan dari kantornya ke rumah, membutuhkan waktu sekitar 30-45 menit berkendara motor kalau lalu lintas tidak macet. Nah pikiran saya berlari-lari, menakuti saya bahwa saya akan meninggal dan tidak tertolong. Pikiran itu selalu muncul dan terbayang saat saya merasa nafas tidak enak atau jantung berdebar. Saya merasa tidak mungkin koko saya bisa cepat datang dan mengantarkan saya ke rumah sakit. Pikiran itu, selalu berputar dan membuat maag saya kambuh, asam lambung naik dan nafas makin tidak enak. Jantung makin berdebar dan makin paniklah saya. Seperti lingkaran setan. Saya sadar, tapi saya tidak tahu apa yang terjadi??

Nah sesampainya di psikiater, kondisi saat itu saya sedang panik. Saya merasa nervous dan saya bermain iPad sambil menunggu giliran saya dipanggil perawat. Tangan saya basah, jantung berdebar dan nafas tidak enak. Saya berusaha mengalihkan pikiran saya dengan bermain iPad. Tiba saatnya saya diperiksa, jantung saya diperiksa dan psikiater langsung mengatakan bahwa ini adalah gangguan jiwa mudah panik. Bahasa ilmiahnya adalah Panic Disorder alias kelainan panik. Sebelumnya saya sempat bertanya apakah saya terkena psikosomatis? Psikiater langsung menepis bukan. Ciri-ciri psikosomatis adalah ada bagian tubuh yang sakit tiba-tiba saat grogi. Sedangkan pada saya, gejala itu tidak ada.

Gampangnya, panic disorder itu adalah keadaan pikiran panik yang muncul di saat yang salah bahkan tanpa ada pemicunya pun bisa muncul sendiri. Sepengalaman saya, pemicunya pasti ada walaupun kecil sekali. Saking kecil dan terbiasa, sampai-sampai kita tidak merasakan keberadaannya. Ibarat kran air, krannya rusak sehingga airnya keluar terus, atau keluar tanpa bisa dikendalikan.

Mulai saat itu, saya berganti psikiater hingga 3 kali dan rutin meminum obat penenang. Psikiater yang kedua, selalu berkata bahwa saya harus mencoba berani berangkat sendiri naik motor. Dan dia 2 kali menaikkan tarif dan saya merasa dia keterlaluan! Padahal dia tau kondisi saya dan keuangan saya saat itu.

Psikiater yang ketiga, awalnya baik. Tapi setelah beberapa kali kunjungan (saya berkunjung sebulan sekali), dia dengan santainya menyatakan bahwa saya sebenarnya tidak bisa sembuh. Bahkan saya harus minum obatnya seumur hidup. Dia berkata ibarat candu, obat ini tidak bisa diputus. Diputus makin parah dan saya harus menambah dosis alias uang yang saya keluarkan makin banyak.

Saya menarik kesimpulan sederhana, bahwa psikiater atau dokter sekalipun, mayoritas bermotif uang. Intinya adalah cari uang. Pengalaman saya sakit ini, tidak ada dokter atau psikiater yang murni menolong. Setidaknya dalam kasus saya ini.

Kemudian saya mulai mencari cara alami. Saya berkonsultasi sama seorang teman yang adalah dokter umum, yang rela memberi saran dengan ilmu yang dia punya, walau dia tidak menguasai psikiatri. Teman saya itu merekomendasikan makan jagung rebus dan coklat, yang mengandung penenang alami. Namun ternyata tidak begitu membantu, obat masih saya minum dan saya jadi tidak bisa beraktivitas.

Obat penenang mempunyai efek negatif yakni tubuh terasa lemas dan mengantuk. Serasa pengen tidur terus dan tidur. Seperti tidak ada gairah hidup. Mencuci baju saja terasa seperti pekerjaan berat. Dan saya menjadi malas mandi serta ingin bunuh diri. Psikiater berkata bahwa panic disorder selalu disertai penyakit lain yang menumpang seperti parasit. Biasanya panic disorder disertai depresi. Atau bisa jadi depresi adalah penyakit utama saya dan yang menyertainya ialah panic disorder. Psikiater berkata itu tidak penting, yang penting diobati keduanya. Saya setuju sih, tapi saya berpikir bahwa obat bukan solusi utama. Obat bagi saya, hanya solusi sementara. Saya harus terapi, tapi apakah terapi yang harus saya lakukan? Saya tidak tahu, saat itu.

Dua psikiater yang saya bayar, hanya memberikan saran bahwa saya harus mencoba keluar sendiri. Dipaksa. Well, bagi saya itu sangat tidak masuk akal, dan memang tidak berlaku bagi saya. Saya merasa banyak penderita panic disorder yang ga bisa dipaksa, apalagi hanya sekedar teori umum yang tidak spesifik per pasien.

Lalu terapi apa yang saya lakukan hingga bisa lepas dari obat dan ‘sembuh’ total? Saya akan membahasnya di bagian ke-2 disini.

Comments

  1. Pingback: Khasiat Minyak Kutus Kutus – Minyak Balur yang saya rasakan – GerombolanSiberat.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *